PUSAT MEMASAK OMABA UNTUK MENGELOLA ANAK-ANAK MALNUTRISI DAN STUNTING
BANDUNG, ibu kota Provinsi Jawa Barat (Indonesia), menghadapi masalah gizi buruk dan pertumbuhan anak balita yang terhambat. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 30% anak balita di Jawa Barat, sekitar 2,7 juta, mengalami pertumbuhan terhambat akibat kekurangan gizi.
Kota telah mengatasi masalah ini melalui program OMaBa. OMaBa, singkatan dari Ojek Makanan Balita (Ojek Makanan Balita), adalah inisiatif lokal yang dikembangkan untuk mengatasi tantangan stunting dengan memasak dan memberikan makanan bergizi gratis kepada balita. Program ini memastikan anak sasaran menerima dan mengkonsumsi makanan tambahan tanpa paksaan.
Panti masak di Desa Cisaranten Kidul merupakan respon yang ditargetkan oleh Puskesmas Riung Bandung, puskesmas kabupaten yang melayani kota Bandung, yang mengidentifikasi gizi buruk dan pertumbuhan terhambat di desa pada anak balita.
Indonesia memiliki akses ke Program Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P): biskuit nutrisi untuk balita, tetapi banyak anak tidak menyukai rasanya dan orang tua mereka malah menjual bahan makanan yang tidak dimakan. Ketika Dr. Sonny Sondari, kepala Dinas Kesehatan, dan rekan-rekannya membahas masalah ini dengan departemen gizi pada tahun 2013, muncul ide baru: memasak setiap hari untuk nutrisi yang baik; maka lahirlah OMaBa.
Kota ini diperkirakan memiliki 6.000 keluarga dengan anak balita di desa tersebut, yang merupakan rumah bagi 32.667 penduduk yang tersebar di sebuah kampung besar. Untuk memastikan seluruh lingkungan tercakup, puskesmas menjangkau Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat, sebuah organisasi yang disponsori negara yang ada di setiap desa untuk mempromosikan pembangunan lokal. Anggota perempuan PKK menanggapi dengan baik, tetapi membutuhkan bimbingan. Oleh karena itu pemerintah kota mendaftarkan Sekolah Tinggi Kesehatan Bandung di Politeknik Gizi. Perguruan tinggi membangun dapur keliling, menyelenggarakan demonstrasi memasak di seluruh desa dan mengumpulkan dana tanggung jawab sosial perusahaan dari Pertamina, perusahaan minyak nasional.
Selama tiga tahun pertama, ibu-ibu PKK memasak sendiri. Dana yang disumbangkan memberikan uang saku sebesar 10.000 rupiah (US$0,70) per anak per hari untuk bahan-bahan yang dibeli dari pasar lokal. Tahap awal menyediakan makanan enam hari per minggu untuk 11 anak selama tiga bulan, yang harus dievaluasi tinggi dan berat badannya setiap bulan di puskesmas desa. Anak-anak masuk dan keluar dari program secara bergiliran sehingga tinggi dan berat badan mereka juga dapat diukur ketika gizi mereka menjadi tanggung jawab orang tua mereka.
Setelah tiga tahun, ibu-ibu PKK memutuskan bahwa memasak bersama akan lebih efisien. Dana tambahan yang disumbangkan memungkinkan mereka membangun pusat memasak di lokasi sentral di desa. Taksi moto mengambil makanan siap saji berupa nasi, ayam gulung, dan sup sayur dan mengantarkannya ke titik-titik sejauh tujuh kilometer jauhnya di desa yang luas di jalan-jalan sempit. “Tiap hari kami ganti varietasnya agar anak-anak tertarik untuk makan makanan pendampingnya,” kata Raksanagara.
Model sentra memasak ini sudah direplikasi di kota-kota lain di Jawa Barat dan Jawa Timur karena isunya berada di tingkat nasional. “Penduduk Indonesia tumbuh pesat dan pertumbuhan menjadi perhatian ketika sepertiga anak Indonesia, sekitar 8 juta, mengalami stunting,” kata Nonie Kaban, Kepala Program untuk Indonesia di International Food Non-Governmental Organization Rikolto. “OMaBa merupakan gerakan inovatif dalam hal peningkatan gizi makanan balita. Kolaborasi inovatif di antara banyak pihak merupakan faktor kunci keberhasilan keberlanjutan program ini.” Ketergantungan pada perempuan ini merupakan perkembangan yang positif. “Gerakan ini memiliki dimensi gender yang sangat kuat karena pelaku utamanya adalah perempuan,” kata Kaban. “Bahkan banyak pengendara motor adalah perempuan.”